Pages

Ada Green Peace Di Kampus UIN SGD

Sejumlah aktivis Green Peace,selasa (13/5) mendatangi kampus UIN SGD Bandung, bukan untuk berdemo tentang lingkungan melainkan mereka datang untuk memberikan penyuluhan tentang hutan di Papua yang sudah tinggal beberapa persen saja.

Menurut Pipit (25) salah satu aktivis Green Peace asal Jakarta mengaku dirinya dan beberapa kawannya datang untuk memberikan penyuluhan, “Kami datang untuk memberikan penyuluhan disamping itu kami juga meminta bantuan secara Financial agar bisa berjalan terus.” ujar pipit

Ketika ditanyai berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh para Donatur, pipit mengatakan “ cukup Rp. 85.000 para donatur sudah bisa membantu kami untuk kelancaran organisasi,” “ disamping itu juga para donatur sudah membantu untuk melestarikan hutan dipapua serta mendapatkan majalah bulanan yang akan kami kirim ketempat donatur.” tambahnya.

Green Peace sendiri memang tidak mendapatkan support secara Financial oleh Pemerintah, mereka berdiri sendiri oleh dukungan para donatur. Ketika ditanyai bagaimana sistem pembayarannya, Pipit mengatakan “setiap Bulan akan kami potong sebesar Rp.85.000,biasanya akan dipotong oleh Bank yang sudah mensupport kami.” jawab pipit.

Pipit Juga mengatakan jika saldo para donatur seperti mahasiswa sangat minim pihak Green Peace dan Bank tidak akan memotong saldonya tetapi tetap akan dikirimkan majalahnya setiap bulan. Selain itu juga menurut pipit para donatur tidak perlu khawatir jika saldo tidak cukup bulan ini, bulan depan tidak akan dipotong dua kali.[] Hari Karyadi


Senin, 31 Mei 2010 di 01.58 , 0 Comments

Kekuatan umat berbasis masjid versi Yusuf

oleh : Burhan
Yusuf Rahmat Allo langi (lahir di Toraja, 6 Januari 1952), Dengan nama Johanis Rumengan Allolangi. Putera keenam dari pasangan Rohaniawan Kristen Protestan, Andarisa Allolangi dan Ludia Lombong. Yusuf menempuh pendidikan SD, SMP, hingga PGAA di kampung halaman. Jiwa aktifis Yusuf muncul sejak SMP, hal tersebut dibuktikan keikutsertaan Yusuf dalam Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Tana Toraja.
Tahun 1971 mewakili Gereja Toraja mengikuti Program Motivator Pembangunan dari Dewan Gereja Indonesia (DGI) Pusat. Namun, berhubungan tidak berlanjut, maka Yusuf mengikuti kuliah pada Akadermi Komunikasi Massa Bandung yang diselesaikan pada tahun 1979, dan memperoleh biaya beasiswa dari Dewan Gereja Indonesia (DGI) Pusat, Jakarta. Semasa kuliah, Yusuf aktif sebagai Pengurus (Wakil Ketua) Gerakan Pemuda Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GP-GPIB) Kota Bandung, Rohaniawan Kristen Protestan di AURI Husein Sastranegara, Guru Agama Kristen Protestan SD Angkasa, dab Penyiar Radio sejahtera (Pekabaran Injil) yang beralamat di Jalan Ir. H. Juanda Bandung.
Dalam usianya yang ke 24, Yusuf mengambil keputusan yang radikal. Yusuf memilih masuk Islam dan akhirnya mengucapkan dua kalimah syahadat pada tanggal 16 Januari 1976 di Masjid Agung Bandung dari pada , di hadapan Ketua MUI Jawa Barat KH. E.Z. Muttaqien (alm), Rektor IAIN SGD Bandung Drs. H. Solahudin Sanusi. Juga dihadiri para sesepuh lainya seperti Drs. H.O. Taufiqullah, dan Drs. H. Utuy Turmudzi (alm). Sejak saat itulah, resmi berganti nama menjadi Yusuf Rahmat Allolangi. Keputusannya itu membuat ayah Yusuf, Andarias Allolangi menghapus nama Yusuf dari Kartu Keluarga.
Tahun 1980, Yusuf melanjutkan kuliah di STIA-LAN RI kampus Bandung, lulus ditahun 1982. Pada tanggal 18 Februari 1983, Yusuf memutuskan untuk menikah dengan seorang gadis Parahiyangan bernama Ikeu Widhiani, dan kini dikaruniai lima orang putra-putri (seorang telah almarhum), serta seorang cucu.
Tahun 1977, Yusuf diangkat menjadi PNS di lingkungan Kanwil Departemen Agama Pripinsi Jawa Barat, Kemudian menjabat sebagai Humas IAIN SGD Bandung tahun 1980-1989. Selanjutnya beralih profesi menjadi Dosen mata kuliah Public Relation di fakultas Ushuludin, laberalih ke Fakultas Dakwah IAIN SGD Bandung hingga kini.
Selain menjadi Dosen, Yusuf turut aktif dibeberapa oraganisasi seperti : Biro Pengabdian Masyarakat MKGR Jawa Barat, Wakil Ketua GEMA-MKGR Jawa Barat, dan kelompok kerja Golkar Jawa Barat sampai tahun 1997. Pada tahun 2005 Yusuf merintis berbagai upaya pemberdayaan umat, antara lain Lembaga Pengembangan Manajemen Kemasjidan dan Pemberdayaan Ekonomi Umat (LPM-KPEU) Fakultas Dakwah IAIN SGD Bandung.
Yusuf juga aktif di Asosiasi Pengelola Ekonomi Umat Dewan Keluarga Masjid (ASPEK-DKM) Jawa Barat, Gerakan untuk Peduli Anak Yatim, Fakir Miskin, Rakyat Sehat (GUPAY-RASA) KORPRI Jawa Barat, Pondok Pesantren ASRI (Andal, Sehat, Rindang, Innovatif) UIN SGD Bandung, Forum Islamic Centre Jawa Barat, dan sam pai sekarang masih memegang amanat sebagai pelaksana Masjid At-Ta’awun Puncak Kabupaten Bogor Jawa Barat dengan Jabatan Wakil Ketua. Tahun 2008, Yusuf mendapat penghargaan Satya Lencana Karya Satia pengabdian selama 30 tahun dari Presiden RI>
Keseharianya yang disibukan organisasi, tidak membuat Yusuf meninggalkan hobby tenisnya. Aktifis yang beralamatkan di Jl. Vijaya Kusumah XI Blok D tetap dapat membagi waktu untuk keluarganya. Kedewasaan dan sejumlah prestasi yang diraihnya, membuat keluarga Yusuf kembali mengfakui keberadaanya sebagai keluarga Allolangi.
MANAJEMEN UMAT BERBASIS MASJID
Keberadaan Yusuf dalam Islam selama 36 tahun, membuat Yusuf faham dan tau benar permasalahn yang di hadapi Islam saat ini. Keterpurukan pemeluk islam yang dikatakan warga mayoritas RI membuat Yusuf tergerak untuk kembali menghimpun kekuatan. Yusuf yakin, menejemen umat harus segera ditata ulang.
Semangatnya untuk merepisi UU pengolahan Zakat, 33 tahun 1999 bukan karena faktor yang tidak jelas. Bagi Yusuf kekuatan zakat mampu menopang keberjalan dan kekuatan Islam. Jika Sholat merupakan tiang agama, maka Yusuf yakin bahwa Zakatlah yang menjadi penyangganya. Pengolahan zakat yang dikelola oleh lembaga diluar masjid seperti yang tertuang pada UU Zakakat nomor 38 tahun 1999 pasal 22 tidak akan menyentuh kepentingan umat secara menyeluruh.
Mengandalkan Lembaga Amil Zakat (LAZ), tidak akan memakmurkan umat, itu hanya akan membelenggu Islam. Kebijakan Pemerintah RI dengan mengelola zakat diluar masjid hanya akan menjadikan Islam menjadi bonsai. Yusuf berkeinginan untuk menjadikan Islam sebagai tuan rumah di negerinya sendiri, bukan sekedar tamu. Karena bagaimanapun Islam yang ikut berperan besar dalam kemerdekaan RI, bahkan Islam turut memberi kontribusi yang besar terhadap perumusan Pancasila.
Dalam GBHN RI dijelaskan bahwa pelaksanaan pembangunan Negara dilakukan oleh masyarakat, artinya dengan pengelolaan zakat berbasis masjid, itu tidak akan mengancam stabilitas Negara, karena hasil akhir dari pengelolaan zakat berbasis masjid akan turut dirasakan Negara dan bukti pembangunan Negara akan tetap ada. Dan tentu saja dengan pengelolaan Zakat oleh masjid akan turut mensejahterakan kehidupan umat islam. Karena masjid tahu benar asnaf yang berada dilingkungan masyarakat.
Dengan tidak dikelolanya Zakat oleh masjid, mencerminkan Indonesia bersifat ambivalence dalam kontek bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harga mati, yang isu nya menolak keberadaan Negara Islam Indonesia (NII) untuk menguasai Indonesia walau hanya sejengkal tanah. Masyarakat islam merupakan warga mayoritas Indonesia yang turut menyokong kedaulatan NKRI, namun dalam pengelolaan Negara RI tidak memberikan akomodasi yang sesuai bagi perkembangan islam, secara tidak langsung pengelolaan Zakat diluar masjid tidak akan membuat Islam berkembang, dengan Islam yang tidak berkembang, maka keutuhan NKRI justru terancam, karena mayoritas warga Negara yang menyokong NKRI adalah pemeluk Islam.

di 01.57 , 0 Comments

“Buntut Hujan” Paksa Warga Kumpul

(Burhan Jurnal A)
“Buntut hujan” mengegerkan warga kampung Kazim Mekar, Senin (5/4). Sekitar pukul 15.03 waktu WIB, warga berlarian menuju lahan yang lapang. Sebagian dari mereka membawa keris, sapu lidi dan membakar kain. Mereka masih percaya bahwa itu semua bisa mengusir “buntut hujan”. “Ini cara yang kakek kami lakukan kalau ada buntut hujan datang” Ujar Djuhri (67)“
“Awalnya cuaca memang terang, lalu awan hitam berkumpul membentuk lingkaran gelap, perlahan banyak sampah pelastik terbang, setelah itu angin kencang mulai berputar, mirip angin puting beliung, namun kecil” Papar Yana (19) yang saat itu melihat langsung.
Tidak ada korban jiwa atau kerugian materil pada peristiwa ini. Namun bagi beberapa orang, peristiwa ini mengingatkan mereka pada peristiwa lima tahun lalu. Peristiwa yang serupa namun lebih besar. Yang memporak porandakan sebagaian rumah warga.

di 01.54 , 0 Comments

OLAHRAGA SEHAT DAN MURAH

Oleh Burhan
Keringat mengucur deras dari tubuhnya. Gerakan gesit, indah, dan luwes dilakukan kurang lebih satu jam. Enung Fatimah dengan penuh semangat melatih para membernya. Instruktur senam muda ini terlihat begitu apik menggerakkan lekuk tubuhnya. Dia berprinsif harus disiplin waktu dalam latihan. Dia juga menambahkan bahwa dirinya tidak ingin menerima complain dari membernya. Baik masalah waktu atau tarif.
Ibu dua anak ini mengaku (14/02), kiprahnya di dunia olahraga diawali karena hobinya sejak kecil. Senam. Dia sudah beberapa kali mengikuti pelatihan agar bisa menjadi instruktur senam. Hal itu sekarang tidak hanya mimpi baginya. Ruangan seluas 9mx6m dari bagian rumahnya digunakan untuk sanggar senam. Sanggar yang sudah dibangun 2 tahun itu mempunyai member kurang lebih 50 orang. Terdiri dari ibu rumah tangga dan mahasiswi yang kost dekat dengan kediamannya.
“Senam ini pengaruhnya banyak sekali selain sehat, murah, berat badan saya pun berkurang sampai dengan 3 kg hanya dalam waktu beberapa minggu saja”, ujar Dede salah satu member disanggar teh Enung. Sanggar yang didirikan pada tanggal 14 Juni 2008 ini didirikan Enung karena saran dari pelatihnya ketika mengikuti Jabar Aerobic Instructur Asosiation.
“Selain hobi saya juga bisa mendapat penghasilan yang lumayan dengan mendirikan sanggar ini”, kata Enung disela-sela latihan. Dia optimis akan terus melanjutkan kiprahnya walaupun banyak menuai kontroversi dari para tetangganya. Untuk bisa mengikuti senam di sanggar Enung, member cukup mengeluarkan uang sebesar Rp.5.000,. jadwal tetap bagi para member yaitu setiap hari selasa, kamis, sabtu dan minggu.
Enung diumur yang sudah kepala tiga ini masih terlihat muda. “kuncinya ya dengan olahraga”, tutur Enung saat di wawancara oleh Jurnal Pos di kediamannya di Manisi Cibiru. Dia juga menambahkan bahwa senam adalah salah satu olahraga yang cocok untuk para hawa. Selain murah kita juga akan merasakan efek positif dari senam itu, tambah Enung. “Jadi tunggu apa lagi, ayo jaga kesehatan kita dengan rajin berolahraga”, saran Enung dengan semangatnya.

di 01.52 , 0 Comments

SOR Gede bage, Pesimis 2011

Oleh : Burhan
Pembangunan SOR Gedebage tidak akan rampung November 2011. SOR yang dipersiapkan untuk menyambut sea game ini dibangun ditanah seluas 80 H. Sulitnya pembebasan tanah menjadi kendala non teknis yang dihadapi Pemda dan Pemkot. “Sebenarnya masyarakat tak menjadi masalah, hanya saja ada beberapa “penyulut dan pemulung” yang mengambil kesempatan dalam pembangunan ini” kata pegawai Dinas Tata Ruang dan Cipta, Djadja ( 25/5 ) saat saya temui ditempat parkir.
“ Saya pesimis pembangunan SOR Gede Bage akan rampung seutuhnya ditahun 2011 ” kata seorang mandor pemenang tender pembangunan SOR, Asep Sofyan Ansori. Salah satu mandor PT Adhi Karya ini menjelaskan beberapa faktor non teknis yang dihadapi di lapangan. Cuaca Bandung yang akhir-akhir ini dominan turun hujan menjadi salah satu faktor yang dikeluhkannya. “ Karena hujan, medan menjadi licin, sehingga pekerjaan kami terganggu “ tegas Asep saat itu.

(SOR Gedebage- Seorang mandor pembangunan SOR Gedebage mengungkapkan pesimis pembangunan sesuai target. Asep Sofyan Anshori menjelaskan, salah satu factor penghambat adalah cuaca kota Bandung yang sedang tidak bersahabat.( 22/5))
Stadion yang menggunakan akses jalan TOL ini ternyata tak seperti nama jalannya “ jalan bebas hambatan “, untuk membuka jalan TOL di KM 149 poin 200m saja sudah mulai terhambat, lambatnya perijinan menjadi hambatan. Sampai saya menemui pihak pemborong (22/5), pembangunan jembatan yang digunakan sebagai jalan antisipasi saja belum setengah jadi, apalagi membuka jalan di KM tersebut.
Belum lagi, rencananya akan dibuka juga jalan utama menuju SOR Gede bage ini di KM 151. “ Tampaknya kami membutuhkan waktu Over Head untuk menyelesaikan proyek ini“ kata Asep. Ketika saya tanyakan berapa lama tambahan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tersebut, Asep tidak dapat menentukan batasan waktu yang mereka butuhkan. “ Untuk membangun sebuah jembatan beton saja over head yang diperkirakan adalah 1 bulan hingga 1 bulan lima belas hari, jadi over head yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan ini dapat diperkirakan sendiri “ jawab Asep dengan nada pesimis.

(SOR Gedebage- Pembangunan jembatan yang akan digunakan sebagai akses jalan menuju SOR masih terbengkalai.)
“ yang penting ada lapang dulu “ kata Asep, “ itu kalimat yang saya dengar langsung dari Pak Wali Kota “ tambah Asep. Sampai berita ini saya turunkan, saya belum mendapatkan foto proyek, dikarenakan pihak Adhi Karya dengan keras melarang sya untuk mengambil foto proyek.

di 01.51 , 0 Comments

Tidak Semua yang Baik Itu Benar

Oleh: Deli Luthfi Rahman

Seorang anak memperhatikan seekor kepompong yang sedang berperoses untuk berubah menjadi seekor kupu-kupu. Kupu-kupu tersebut berusaha dengan sangat keras untuk keluar dari kepompong tersebut. Hal itu yang menarik perhatian sang anak. Kupu-kupu tersebut baru berhasil keluar setengah badannya, dan hal itu juga yang membuat sang anak merasa iba. Akhirnya sang anak pun mendapatkan ide untuk menolongnya, kemudian ia bergegas menuju rumahnya untuk mengambil sebuah gunting. Sang kupu-kupu masih terlihat bersusah payah demi kebebasan dirinya, akhirnya sang anak pun datang dan tanpa berpikir panjang sang anak menggunting kepompong tersebut hanya untuk membebaskan kupu-kupu yang baru keluar setengah badannya itu. Kupu-kupu pun terbebas dan lepas, namun ironis sekali nasib kupu-kupu tersebut. Ia tak bisa terbang, ia hanya bisa merayap di atas tanah. Anak itu pun mengambil kupu-kupu tersebut dan terbersit dalam pikiran sang anak bahwa kenapa kupu-kupu ini tidak bisa terbang, seharusnya ia bisa terbang di angkasa dan bermain-main di taman. Anak itu-pun merasa iba kembali dan akan menolong kupu-kupu yang tidak bisa terbang itu. Dilemparkannyalah kupu-kupu tersebut ke langit dengan harapan kupu-kupu tersebut akan terbang. Namun kupu-kupu tersebut tidak bisa mengembangkan sayapnya dan akhirnya terjatuh diatas tanah dengan keras, anak itu pun menghamipiri kupu-kupu yang cantik itu, kupu-kupu itu pun tidak bergerak dan mati.

Cerita di atas bila dilihat secara sekilas memang tampak seperti biasa-biasa saja, namun dalam cerita tersebut terdapat pelajaran yang bisa kita petik. Kupu-kupu tersebut tidak bisa terbang dikarenakan perbuatan sang anak yang menggunting kepompong tersebut. Sang anak memang bermaksud baik namun perbuatannya itu salah, justru saat-saat sulit membebaskan dirinya dari kepompong itulah yang akan membuatnya bisa terbang. karena saat kupu-kupu berusaha membebaskan dirinya ia akan berusaha mengeluarkan sayapnya sehingga mengembang, namun ketika kupu-kupu baru keluar setengah dari kepompong dan sayapnya belum mengembang sang anak malah menggunting kepompongnya, sehingga mengakibatkan sayapnya tetap mengkerut dan tidak bisa mengembang.

Dari ulat kemudian menjadi kemompong dan akhirnya menjelma menjadi sebuah kupu-kupu yang cantik, adalah sebuah evolusi yang mesti terjadi bagi hewan tersebut, ini lah suatu fitrah dari Allah. Hal ini juga yang terjadi pada manusia, manusia diberi ujian oleh Allah tentunya untuk membuat manusia tersebut menjadi mulia dan cakap dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Kadang kita sering menyalah-artikan ujian yang Allah berikan kepada kita, dan sering kita anggap bahwa Allah tidak sayang kepada kita. Manusia didalam hidupnya tidak akan lepas dari sebuah masalah atau persoalan-persoalan hidup.

Pernahkah kita dimarahi gara-gara tidak belajar?, pernahkah kita dimarahi gara-gara tidak mengerjakan shalat?, pernahakah kita dimarahi gara-gara kita tdak ngaji?, pernahkah kita dihukum oleh guru gara-gara tidak mengerjakan PR?, pernahkah kita dimarahi oleh orang tua gara-gara kita berkelahi dengan teman?. Inilah suatu bentuk kasih sayang dari orang tua, guru dan orang sekeliling kita yang diberikan kepada kita dengan bentuk kemarahan. Mungkin waktu kita dimarahi kita akan merasa sakit dan membenci pada orang tersebut, namun suatu saat kita akan berterimaksih kepada orang yang memarahi kita, karena hal itu yang membentuk diri kita menjadi orang yang baik dan menjadikan diri kita orang yang berguna.

Namun alangkah sedihnya bila kita tidak pernah dimarahi gara-gara hal tersebut. Mungkin kita akan menganggap bahwa perbuatan salah yang kita lakukan adalah benar, karena tidak pernah ada orang yang menegur, memberitahu atau memarahi kita. Kita mengnggap bahwa kita tidak usah belajar, kita mengnggap apalah artinya shalat, kita menganggap bahwa mengaji tidak penting, kita menganggap bahwa menyakiti orang lain itu perbuatan yang benar. Dan hal inlah yang akan membentuk kita menjadi orang yang tidak berguna.

Tidak semua yang baik itu benar, dan tidak semua perbuatan yang buruk itu salah.
Baik dan benar, buruk dan salah adalah suatu jawaban yang berbeda. Bila hati yang bertanya, baikah atau burukah perbuatan kita, namun bila pikiran yang bertanya benarkah atau salahkah perbuatan kita. Jadi baik dan buruk adalah jawaban dari hati sedangkan salah dan benar jawaban dari pikiran. Inilah yang membuat kita kadang-kadang salah menempatkan jawaban.

Apabila ada seorang anak yang ditampar oleh orang tua apakah jawabannya baik atau buruk?, tentu saja jawabannya pasti buruk. Mengapa buruk, karena orang tua tersebut telah menyakiti anaknya. Terus ada anak yang ditampar oleh orang tuanya gara-gara mencuri, apakah jawabannya benar atau salah, tentu saja jawabannya benar. mengapa jawabannya benar, karena orang tua tersebut menampar bukan untuk menyakiti tetapi untuk mengingatkan bahwa mencuri itu dilarang.

Kemudian apabila ada orang yang saling mencintai atau menikah, apakah jawabannya baik atau buruk?, tentu saja jawabannya baik, mengapa baik karena itulah fitrah manusia. Tetapi kalau ada orang yang saling mencintai atau menikah kepada sesama jenisnya, apakah jawabannya benar atau salah, pasti jawabannya salah. Mengapa salah, karena ia sudah melanggar aturan.

Dalam hal menentukan benar dan salah tentu saja harus ada ukurannya, ukuran benar dan salah itu ialah sebuah aturan, dan aturan bagi makhluq yang diciptakan oleh Allah ialah Al-Quran dan As-Sunnah. Jadi ukuran benar dan salah itu ialah Al-Quran dan As-Sunnah.

Disinilah salah satu peran orang tua bagi anaknya, jangan sampai orang tua marah apalagi sampai memukul dengan tidak mempunyai alasan atau memarahinya itu tidak diletakan pada dasar yang benar, bukan dengan niat menyakiti tapi dengan sutau dasar kasih sayang dan suatu amanat dari Allah supaya mendapatkan kesuksesan di dunia dan akhirat.

Cerita di atas menggambarkan, seorang anak yang bermaksud baik untuk menolong sang kupu-kupu dan tak pernah sedikitpun niat untuk menyakitinya, Namun akibat dari perbuatan anak itu malah menjadi suatu malapetaka bagi kupu-kupu. Dan ini pulalah hubungan baik dan buruk serta benar dan salah yang tentunya kita harus pandai menempatkan jawaban tersebut. Cerita sang anak dan kupu-kupu menggambarkan suatu perbuatan yang baik namun salah. Wallahu a’alami.

Sabtu, 29 Mei 2010 di 11.50 , 0 Comments

Hari Kemenangan Ditengah Bencana

Oleh: Deli Luthfi Rahman


Gemercik hujan membasahi bumi, disaat gema takbir membahana, “Allahu akbar, Allahu akbar, laa illaha illallhu Allahu Akbar, Allahu akbar walillahilham”. Lafadz illahi terdengar indah, sejuk dan menentramkan hati. Bukan bumi saja yang basah, tapi malam itu terasa sangat basah. Basah oleh tangisan karena kehilangan rumah, sanak saudara dan harta benda. Inilah suasana menjelang lebaran di lokasi gempa, Kp. Pasir Mulus Desa Marga Mulya Pangalengan Kab. Bandung. Daerah yang berada di sebelah selatan Bandung ini tak luput dari gempa yang terjadi pada rabu, 02 September 2009 dengan kekuatan 7,3 SR.

Tidak ada baju, celana atau sepatu baru, yang seperti biasanya ada pada setiap lebaran. Kini yang mereka kenakan hanyalah baju hasil sumbangan dari orang yang peduli terhadap mereka. Tawa riang anak-anak pun sirna ditelan kesunyian puing-puing yang masih berserakan. Tidak seperti sebelum musibah tersebut terjadi, biasanya anak-anak berlarian, berkeliling kampung sambil mengumandangkan takbir pada malam sebelum hari raya. Namun itu hanya sepenggal kisah indah yang tertanam pada ingatan Tatang, seorang warga Pangalengan yang rumahnya pun ikut hancur ketika gempa itu terjadi.

Malam ini terasa sunyi bagi Tatang dan sebagian warga lainnya. sunyi bukan karena tidak ada siapa-siapa, tetapi sunyi dari rasa kesombongan yang merasuki hatinya. Sesekali lafadz Takbir itu mengingatkan ia, bahwa tidak ada yang pantas untuk disombongkan dari dirinya, ia merasa terlalu kecil untuk berbangga diri, hanya Allah-lah yang maha besar. Semenjak kejadian itu pria berumur 27 tahun ini semakin merasakan keagungan, nikmat dan kasih sayang Allah terhadap hambanya.

Kejadian gempa tak membuat Tatang putus asa atau marah terhadap Allah karena telah memberinya cobaan. Justru baginya inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah, dengan kejadian ini Allah akan menaikan derajat hambanya. Tidak ada sesuatu akan terjadi tanpa seizin Allah, seharusnya kita semakin berpikir mengapa Allah memberikan cobaan ini terhadap kita?

Esok adalah hari raya bagi umat Islam, puncak dari sebuah ritual ibadah shaum. Tatang selalu teringat kepada istrinya, Ila, seorang wanita yang baru dinikahinya selama delapan bulan dan sedang mengandung anak pertamanya. ia selalu teringat kepada istrinya yang selalu dengan setia mendampingi dirinya ketika peristiwa itu terjadi. Istrinya, ia ungsikan ke rumah orang tuannya yang masih berada di daerah pangalengan. Rumah orang tua Tatang selamat dari bencana itu.

Perlahan-lahan malam pun mulai larut, tidak ada tabuh-tabuhan pengiring lafadz takbir yang biasa orang lakukan saat takbiran, sebuah tradisi yang entah sejak kapan adanya itu hilang hanyut dibawa air hujan yang membasahi bumi dan hati warga Pangalengan. Jangankan bunyi tabuh-tabuhan, bunyi sendok jatuh pun selalu membuat warga ketakutan, hal itu mengingatkan mereka pada peristiwa gempa. Tatang pun jadi teringat saat gempa itu terjadi, ia baru pulang dari pasar dan pada saat ia baru mencapai depan gang rumahnya, bumi pun bergetar dengan dahsyat. Tanah bak ombak, bergelombang dan menerjang apa yang ada di atasnya. Orang-orang berlarian keluar persis seperti lebah yang di goyangkan sarangnya. Tatang pun teringat istrinya sedang berada dirumah sendirian, rasa cemas menghampirinya membayangkan keadaan Ila. Rumah pun tidak ada yang hancur, hanya orang-orang berlarian keluar rumah karena panic. Namun gempa susulan datang lagi, inilah yang mengakibatkan bangunan-bangunan hancur.

Tatang pun segera berlari menuju rumahnya. Sambil sesekali rasa cemas menghampiri dirinya, memikirkan sang istri yang sedang hamil lima bulan. Setelah sampai rumahnya ia mendapati istrinya sedang berada diluar, Tatang pun sedikit merasa lega mendapati istrinya selamat. Saking paniknya Ila lupa menggunakan penutup kepalanya, sebuah identitas sebagai seorang muslimah. Ila hanya mengatakan pada Tatang, “Kang kerudung saya di dalam, saya tidak pakai kerudung”. Tatang merasa tenang, gempa tidak menghancurkan keimanan istrinya, kemudian tatang pun memeberikan jaketnya untuk menutupi kepala istrinya itu. Ia merasa khawatir jika masuk ke dalam rumahnya, bangunan sisa gempa tadi akan runtuh. Baginya nyawalah yang terpenting, barang atau harta benda bisa ia pinjam atau cari, tapi nyawa tidak seperti harta benda yang dapat dibeli dengan uang.

Ia masih teringat ketika gempa baru selesai terjadi, banyak orang-orang yang masuk kembali kerumahnya untuk mengambil harta bendanya yang tersisa. Namun tidak sedikit yang terluka akbiat perbuatannya itu. hal ini membuat Tatang berpikir, inilah manusia yang teramat sayang terhadap harta, sampai tidak pernah memikirkan nyawanya sedikit pun. Tidak sedikit orang yang batal puasanya akibat musibah ini, namun tidak bagi Tatang, justru semestinya kita harus semakin sadar atas musibah ini. selama dua hari, ia hanya sahur dan berbuka dengan ubi mentah yang ada dikebun Pak Maman. Memang tidak enak, tapi apa mau dikata, makanan inilah yang ada.

Lafadz Takbir semakin terdengar menyeruak menembus qalbu Tatang. Tak terasa fajar telah terbit. Kumandang adzan shubuh membahana di bumi yang tertimpa bencana. Tatang bergegas mempersiapkan diri untuk pergi shalat I’ed. Karena hari ini ia akan menjadi khatib dan imam pada shalat I’ed, dan sebelum pergi ke tempat shalat ia harus membagikan zakat, titipan dari para muzaki di Bandung.

Shalat ‘Ied dilakukan di lapang bekas masjid yang kini sudah rata dengan tanah. Pada bulan Ramadhan Tatang dan rekan-rekannya sengaja meratakan masjid yang tinggal puing-puing tersebut untuk pelaksanaan shalat ‘Ied. Saat memasuki tempat tersebut, terasalah suasana mengharukan, haru karena hari kemenangan telah tiba bagi mereka yang menang, menang dalam kesabaran atas musibah yang menimpa mereka.

Mereka shalat dengan khusuk, memanjatkan do’a pada yang maha kuasa. Mereka asik berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam keheningan. Tak sedikit cucuran air mata mengalir di pipi-pipi mereka. anak-anak pun tampak khusuk menjalani hari yang dinantikan, meskipun tidak ada baju baru bagi mereka. Ibu-ibu dan Bapak-bapak tunduk sujud, meskipun tidak ada hidangan yang akan dihidangkan pada saat berlebaran.

Setelah shalat Tatang pun naik ke atas mimbar, kemudian mengawali khutbahnya dengan membacakan hamdalah, memuji Allah yang menguasai alam beserta isinya. Apa yang dirasakan Tatang ia ungkapkan dalam khutbah Ied tersebut, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, coba lihatlah siapa yang ada disebelah kanan, kiri, depan dan belakang kita. Adakah yang berbeda dari mereka?, dan adakah tetangga kita yang tidak hadir pada ‘Ied kali ini. sudah seharusnyalah kita saling memperhatikan. Mereka adalah saudara kita.”

Disela-sela khutbahnya, Tatang mebacakan suatu ayat yang sangat indah dan mempunyai makna sangat dalam, “Fabi Ayyi Aala’i Robbikumaa Tukadzibaan”. “Nikmat manakah yang kamu dustakan?”. Kontan para jama’ah ied semakin sedih mendengar ayat tersebut. Mereka semakin berpikir, ternyata kita semua masih diberi kenikmatan, nikmat menikmati hari raya. Sekarang mereka semakin sadar bahwa Allah sayang kepada mereka. Allah masih memberi kesempatan hidup untuk dirinya. Karena tidak sedikit dari korban gempa yang tidak dapat mengikuti hari raya.

RW 03 di Kp. Pasir Mulus tersebut terasa hening namun ramai, hening karena karena khusuk, ramai karena panjatan do’a kepada yang Maha Kuasa. setelah selesai ‘Ied mereka tidak mau meninggalkan tempat shalat. Mereka tidak mau meninggalkan saudara-saudaranya. Sungguh pemandangan yang mengharukan. “Taqbalallahu minna wa minkum”, sebuah do’a yang mereka ucapkan kepada sesama saudaranya, sambil berangkulan dan dihiasi air mata kebahagiaan. Baju baru, ketupat dan kue-kue tidak ada pada hari lebaran mereka kali ini, hari kemenganlah yang mereka miliki. Karena sekarang mereka mengerti makna dari, “Fabi Ayyi Aala’i Robbikumaa Tukadzibaan”, “Nimat mana yang kamu dustakan”.


(Mengenang Gempa Pangalengan)

di 10.58 , 0 Comments