Pages

Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

CIMOL, SENTRA BARANG BEKAS BERKUALITAS

Apa yang anda pikirkan bila mendengar kata cimol ? Mungkin yang ada dalam benak anda adalah sebuah penganan khas Bandung yang terbuat dari tepung kanji ( aci ) yang berbentuk bulat digoreng dan disajikan dengan bubuk cabai kering.

Cimol ini bukan lah sebuah makanan tapi melainkan sebuah tempat yang menjual berbagai pakaian, dari mulai sepatu hingga topi. Cimol terletak di pasar Induk Gedebage, dulu cimol terletak di daerah Cibadak. Kata " Cimol " diambil dari kata Cibadak Mall, walaupun bentuknya tidak seperti Mall kebanyakan. Bentuk pasar Cimol ini bukan gedung tinggi tapi berbentuk los-los atau ruko-ruko kecil.

Barang yang ditawarkan disini cukup pariatif, selain kualitas barangnya cukup bagus, harga yang ditawarkanpun cukup terjangkau. Bila anda pintar memilih barang dan menawar harga, cukup dengan uang Rp. 10.000 saja anda bisa mendapatkan sepotong celana jeans yang cukup bagus. Selain celana, masih banyak barang yang dijual disini. Contohnya jaket kulit, ditoko harga sebuah jaket kulit asli bisa mencapai Rp. 500.000, disini anda bisa mendapatkannya dengan harga yang jauh lebih murah, tentu dengan kualitas yang tidak kalah bagus.





Barang-barang yang dijual disini berasal dari Korea, China dan negara lainnya. Walaupun disebut barang bekas, kondisi barangnya masih layak pakai, paling hanya ada sedikit noda yang menempel dan mudah dibersihkan. Bukan hanya orang dari kota Bandung saja yang membeli barang disini, orang-orang dari luar kota pun ikut berburu pakaian murah dan berkualitas disini.

Bila diakhir pekan seperti hari sabtu dan minggu, pengunjung Cimol bisa bertambah dua kali lipat dari hari-hari biasa. Banyaknya barang untuk dipilih dan harga yang terjangkau menjadi alasan utama mengapa para pengunjung rela berdesak-desakan untuk membeli barang yang dicari. Fasilitasnya pun cukup memadai, sudah tersedianya mushola dan toilet menjadi sarana pendukung kenyamanan dalam berbelanja selain tempat parkir.

Fasilitas pendukung lainnya dari cimol adalah sudah tersedianya rumah-rumah makan disekitar area cimol yang memudahkan para pengunjung mengisi perut sebelum atau sesudah berbelanja.

Tian Setiawan ( 18 ) seorang pegawai disebuah perusahaan di Bandung, rela berdesak-desakan demi mendapatkan barang yang dia inginkan. " Ngga apalah desek-desekan kaya gini, yang penting dapat barangnya. Saya udah dapet sepatu sama jaket buat kerja, kalau di toko, sepatu kaya gini harganya di atas dua ratus ribu. Disini Cuma seratus dua puluh ribu aja. " ujarnya.

Bukan hanya masyarakat menengah ke bawah yang berbelanja di sini, masyarakat menengah ke atas pun banyak yang berbelanja. Banyaknya kalangan masyarakat menengah ke atas yang berbelanja di sini di tandai dengan banyaknya mobil mewah yang terparkir di tempat parkir. Menurut pedagang yang berjualan di sini, pernah ada artis ibu kota yang berbelanja pakaian di sini.

Bila melihat keadaan perekonomian dunia khususnya Indonesia yang sedang murat marit, Cimol menjadi pilihan yang tepat untuk memuaskan dahaga dalam berbelanja. Tak salah apa bila barang yang dijual di sini menjadi buruan para penghobi belanja.

Keuntungan yang kita dapatkan bila brbelanja di Cimol adalah selain harga yang pasti murah dan berkulitas, kita juga bisa menawar harga barang yang akan kita beli. Tidak seperti di toko, barang-barang yang dijual sudah dibandrol dan kita tidak bisa menawarnya.

Hal yang unik dari Cimol ini yaitu apa bila sudah menjelang sore, maka para pedagang akan menjual barang dagangannya dengan harga miring. Seperti jaket yang biasanya dijual dengan harga Rp. 50.000-Rp.60.000 perpotong, bisa dijual dengan harga Rp 20.000 saja.

Selain harga murah dan cukup bagus, pakian yang dijual di sini terhitung sangat lengkap. Dari pakian anak-anak, remaja hingga pakaian untuk dewasa tersedia di sini. Dari mulai sepatu, celana, kaos oblong, jaket hingga topi bijual di sini. Bahkan baju renang untuk anak sampai dewasa pun ada.

Sebagai pasar yang baru dibangun, Cimol terbilang pasar yang bisa menarik pengunjung yang banyak setiap harinya. Karena masih kurangnya tempat untuk para pedagang itu berjualan, pengelola dan Pemerintah Kota Bandung sudah merehab tempat pasar ini agar menjadi lebih luas. Sehingga para pengunjung lebih nyaman dalam berbelanja.

Pasar yang sudah berediri sejak lima tahun lalu ini, dulu kurang mendapat perhatian dari pengunjung. Para pengunjung berpikiran bahwa barang yang dijual di sini adalah barang bekas yang sudah jelek kondisinya. Padahal tidak semua barang yang dijual disini adalah barang bekas, ada sebagian barang yang baru dan asli buatan Indonesia.

Dulu banyak orang yang gengsi atau malu untuk membeli pakaian di pasar Cimol ini, mereka lebih memilih membeli barang atau pakaian di mall atau toko-toko. Berbeda dengan sekarang, karena sudah tahu harga murah dan kualitas barang yang bagus, para pengunjung sudah tidak memandang Cimol ini dengan sebelah mata.

Jumat, 11 Juni 2010 di 08.52 , 0 Comments

Hari Kemenangan Ditengah Bencana

Oleh: Deli Luthfi Rahman


Gemercik hujan membasahi bumi, disaat gema takbir membahana, “Allahu akbar, Allahu akbar, laa illaha illallhu Allahu Akbar, Allahu akbar walillahilham”. Lafadz illahi terdengar indah, sejuk dan menentramkan hati. Bukan bumi saja yang basah, tapi malam itu terasa sangat basah. Basah oleh tangisan karena kehilangan rumah, sanak saudara dan harta benda. Inilah suasana menjelang lebaran di lokasi gempa, Kp. Pasir Mulus Desa Marga Mulya Pangalengan Kab. Bandung. Daerah yang berada di sebelah selatan Bandung ini tak luput dari gempa yang terjadi pada rabu, 02 September 2009 dengan kekuatan 7,3 SR.

Tidak ada baju, celana atau sepatu baru, yang seperti biasanya ada pada setiap lebaran. Kini yang mereka kenakan hanyalah baju hasil sumbangan dari orang yang peduli terhadap mereka. Tawa riang anak-anak pun sirna ditelan kesunyian puing-puing yang masih berserakan. Tidak seperti sebelum musibah tersebut terjadi, biasanya anak-anak berlarian, berkeliling kampung sambil mengumandangkan takbir pada malam sebelum hari raya. Namun itu hanya sepenggal kisah indah yang tertanam pada ingatan Tatang, seorang warga Pangalengan yang rumahnya pun ikut hancur ketika gempa itu terjadi.

Malam ini terasa sunyi bagi Tatang dan sebagian warga lainnya. sunyi bukan karena tidak ada siapa-siapa, tetapi sunyi dari rasa kesombongan yang merasuki hatinya. Sesekali lafadz Takbir itu mengingatkan ia, bahwa tidak ada yang pantas untuk disombongkan dari dirinya, ia merasa terlalu kecil untuk berbangga diri, hanya Allah-lah yang maha besar. Semenjak kejadian itu pria berumur 27 tahun ini semakin merasakan keagungan, nikmat dan kasih sayang Allah terhadap hambanya.

Kejadian gempa tak membuat Tatang putus asa atau marah terhadap Allah karena telah memberinya cobaan. Justru baginya inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah, dengan kejadian ini Allah akan menaikan derajat hambanya. Tidak ada sesuatu akan terjadi tanpa seizin Allah, seharusnya kita semakin berpikir mengapa Allah memberikan cobaan ini terhadap kita?

Esok adalah hari raya bagi umat Islam, puncak dari sebuah ritual ibadah shaum. Tatang selalu teringat kepada istrinya, Ila, seorang wanita yang baru dinikahinya selama delapan bulan dan sedang mengandung anak pertamanya. ia selalu teringat kepada istrinya yang selalu dengan setia mendampingi dirinya ketika peristiwa itu terjadi. Istrinya, ia ungsikan ke rumah orang tuannya yang masih berada di daerah pangalengan. Rumah orang tua Tatang selamat dari bencana itu.

Perlahan-lahan malam pun mulai larut, tidak ada tabuh-tabuhan pengiring lafadz takbir yang biasa orang lakukan saat takbiran, sebuah tradisi yang entah sejak kapan adanya itu hilang hanyut dibawa air hujan yang membasahi bumi dan hati warga Pangalengan. Jangankan bunyi tabuh-tabuhan, bunyi sendok jatuh pun selalu membuat warga ketakutan, hal itu mengingatkan mereka pada peristiwa gempa. Tatang pun jadi teringat saat gempa itu terjadi, ia baru pulang dari pasar dan pada saat ia baru mencapai depan gang rumahnya, bumi pun bergetar dengan dahsyat. Tanah bak ombak, bergelombang dan menerjang apa yang ada di atasnya. Orang-orang berlarian keluar persis seperti lebah yang di goyangkan sarangnya. Tatang pun teringat istrinya sedang berada dirumah sendirian, rasa cemas menghampirinya membayangkan keadaan Ila. Rumah pun tidak ada yang hancur, hanya orang-orang berlarian keluar rumah karena panic. Namun gempa susulan datang lagi, inilah yang mengakibatkan bangunan-bangunan hancur.

Tatang pun segera berlari menuju rumahnya. Sambil sesekali rasa cemas menghampiri dirinya, memikirkan sang istri yang sedang hamil lima bulan. Setelah sampai rumahnya ia mendapati istrinya sedang berada diluar, Tatang pun sedikit merasa lega mendapati istrinya selamat. Saking paniknya Ila lupa menggunakan penutup kepalanya, sebuah identitas sebagai seorang muslimah. Ila hanya mengatakan pada Tatang, “Kang kerudung saya di dalam, saya tidak pakai kerudung”. Tatang merasa tenang, gempa tidak menghancurkan keimanan istrinya, kemudian tatang pun memeberikan jaketnya untuk menutupi kepala istrinya itu. Ia merasa khawatir jika masuk ke dalam rumahnya, bangunan sisa gempa tadi akan runtuh. Baginya nyawalah yang terpenting, barang atau harta benda bisa ia pinjam atau cari, tapi nyawa tidak seperti harta benda yang dapat dibeli dengan uang.

Ia masih teringat ketika gempa baru selesai terjadi, banyak orang-orang yang masuk kembali kerumahnya untuk mengambil harta bendanya yang tersisa. Namun tidak sedikit yang terluka akbiat perbuatannya itu. hal ini membuat Tatang berpikir, inilah manusia yang teramat sayang terhadap harta, sampai tidak pernah memikirkan nyawanya sedikit pun. Tidak sedikit orang yang batal puasanya akibat musibah ini, namun tidak bagi Tatang, justru semestinya kita harus semakin sadar atas musibah ini. selama dua hari, ia hanya sahur dan berbuka dengan ubi mentah yang ada dikebun Pak Maman. Memang tidak enak, tapi apa mau dikata, makanan inilah yang ada.

Lafadz Takbir semakin terdengar menyeruak menembus qalbu Tatang. Tak terasa fajar telah terbit. Kumandang adzan shubuh membahana di bumi yang tertimpa bencana. Tatang bergegas mempersiapkan diri untuk pergi shalat I’ed. Karena hari ini ia akan menjadi khatib dan imam pada shalat I’ed, dan sebelum pergi ke tempat shalat ia harus membagikan zakat, titipan dari para muzaki di Bandung.

Shalat ‘Ied dilakukan di lapang bekas masjid yang kini sudah rata dengan tanah. Pada bulan Ramadhan Tatang dan rekan-rekannya sengaja meratakan masjid yang tinggal puing-puing tersebut untuk pelaksanaan shalat ‘Ied. Saat memasuki tempat tersebut, terasalah suasana mengharukan, haru karena hari kemenangan telah tiba bagi mereka yang menang, menang dalam kesabaran atas musibah yang menimpa mereka.

Mereka shalat dengan khusuk, memanjatkan do’a pada yang maha kuasa. Mereka asik berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam keheningan. Tak sedikit cucuran air mata mengalir di pipi-pipi mereka. anak-anak pun tampak khusuk menjalani hari yang dinantikan, meskipun tidak ada baju baru bagi mereka. Ibu-ibu dan Bapak-bapak tunduk sujud, meskipun tidak ada hidangan yang akan dihidangkan pada saat berlebaran.

Setelah shalat Tatang pun naik ke atas mimbar, kemudian mengawali khutbahnya dengan membacakan hamdalah, memuji Allah yang menguasai alam beserta isinya. Apa yang dirasakan Tatang ia ungkapkan dalam khutbah Ied tersebut, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, coba lihatlah siapa yang ada disebelah kanan, kiri, depan dan belakang kita. Adakah yang berbeda dari mereka?, dan adakah tetangga kita yang tidak hadir pada ‘Ied kali ini. sudah seharusnyalah kita saling memperhatikan. Mereka adalah saudara kita.”

Disela-sela khutbahnya, Tatang mebacakan suatu ayat yang sangat indah dan mempunyai makna sangat dalam, “Fabi Ayyi Aala’i Robbikumaa Tukadzibaan”. “Nikmat manakah yang kamu dustakan?”. Kontan para jama’ah ied semakin sedih mendengar ayat tersebut. Mereka semakin berpikir, ternyata kita semua masih diberi kenikmatan, nikmat menikmati hari raya. Sekarang mereka semakin sadar bahwa Allah sayang kepada mereka. Allah masih memberi kesempatan hidup untuk dirinya. Karena tidak sedikit dari korban gempa yang tidak dapat mengikuti hari raya.

RW 03 di Kp. Pasir Mulus tersebut terasa hening namun ramai, hening karena karena khusuk, ramai karena panjatan do’a kepada yang Maha Kuasa. setelah selesai ‘Ied mereka tidak mau meninggalkan tempat shalat. Mereka tidak mau meninggalkan saudara-saudaranya. Sungguh pemandangan yang mengharukan. “Taqbalallahu minna wa minkum”, sebuah do’a yang mereka ucapkan kepada sesama saudaranya, sambil berangkulan dan dihiasi air mata kebahagiaan. Baju baru, ketupat dan kue-kue tidak ada pada hari lebaran mereka kali ini, hari kemenganlah yang mereka miliki. Karena sekarang mereka mengerti makna dari, “Fabi Ayyi Aala’i Robbikumaa Tukadzibaan”, “Nimat mana yang kamu dustakan”.


(Mengenang Gempa Pangalengan)

Sabtu, 29 Mei 2010 di 10.58 , 0 Comments