Pages

Hari Kemenangan Ditengah Bencana

Oleh: Deli Luthfi Rahman


Gemercik hujan membasahi bumi, disaat gema takbir membahana, “Allahu akbar, Allahu akbar, laa illaha illallhu Allahu Akbar, Allahu akbar walillahilham”. Lafadz illahi terdengar indah, sejuk dan menentramkan hati. Bukan bumi saja yang basah, tapi malam itu terasa sangat basah. Basah oleh tangisan karena kehilangan rumah, sanak saudara dan harta benda. Inilah suasana menjelang lebaran di lokasi gempa, Kp. Pasir Mulus Desa Marga Mulya Pangalengan Kab. Bandung. Daerah yang berada di sebelah selatan Bandung ini tak luput dari gempa yang terjadi pada rabu, 02 September 2009 dengan kekuatan 7,3 SR.

Tidak ada baju, celana atau sepatu baru, yang seperti biasanya ada pada setiap lebaran. Kini yang mereka kenakan hanyalah baju hasil sumbangan dari orang yang peduli terhadap mereka. Tawa riang anak-anak pun sirna ditelan kesunyian puing-puing yang masih berserakan. Tidak seperti sebelum musibah tersebut terjadi, biasanya anak-anak berlarian, berkeliling kampung sambil mengumandangkan takbir pada malam sebelum hari raya. Namun itu hanya sepenggal kisah indah yang tertanam pada ingatan Tatang, seorang warga Pangalengan yang rumahnya pun ikut hancur ketika gempa itu terjadi.

Malam ini terasa sunyi bagi Tatang dan sebagian warga lainnya. sunyi bukan karena tidak ada siapa-siapa, tetapi sunyi dari rasa kesombongan yang merasuki hatinya. Sesekali lafadz Takbir itu mengingatkan ia, bahwa tidak ada yang pantas untuk disombongkan dari dirinya, ia merasa terlalu kecil untuk berbangga diri, hanya Allah-lah yang maha besar. Semenjak kejadian itu pria berumur 27 tahun ini semakin merasakan keagungan, nikmat dan kasih sayang Allah terhadap hambanya.

Kejadian gempa tak membuat Tatang putus asa atau marah terhadap Allah karena telah memberinya cobaan. Justru baginya inilah salah satu bentuk kasih sayang Allah, dengan kejadian ini Allah akan menaikan derajat hambanya. Tidak ada sesuatu akan terjadi tanpa seizin Allah, seharusnya kita semakin berpikir mengapa Allah memberikan cobaan ini terhadap kita?

Esok adalah hari raya bagi umat Islam, puncak dari sebuah ritual ibadah shaum. Tatang selalu teringat kepada istrinya, Ila, seorang wanita yang baru dinikahinya selama delapan bulan dan sedang mengandung anak pertamanya. ia selalu teringat kepada istrinya yang selalu dengan setia mendampingi dirinya ketika peristiwa itu terjadi. Istrinya, ia ungsikan ke rumah orang tuannya yang masih berada di daerah pangalengan. Rumah orang tua Tatang selamat dari bencana itu.

Perlahan-lahan malam pun mulai larut, tidak ada tabuh-tabuhan pengiring lafadz takbir yang biasa orang lakukan saat takbiran, sebuah tradisi yang entah sejak kapan adanya itu hilang hanyut dibawa air hujan yang membasahi bumi dan hati warga Pangalengan. Jangankan bunyi tabuh-tabuhan, bunyi sendok jatuh pun selalu membuat warga ketakutan, hal itu mengingatkan mereka pada peristiwa gempa. Tatang pun jadi teringat saat gempa itu terjadi, ia baru pulang dari pasar dan pada saat ia baru mencapai depan gang rumahnya, bumi pun bergetar dengan dahsyat. Tanah bak ombak, bergelombang dan menerjang apa yang ada di atasnya. Orang-orang berlarian keluar persis seperti lebah yang di goyangkan sarangnya. Tatang pun teringat istrinya sedang berada dirumah sendirian, rasa cemas menghampirinya membayangkan keadaan Ila. Rumah pun tidak ada yang hancur, hanya orang-orang berlarian keluar rumah karena panic. Namun gempa susulan datang lagi, inilah yang mengakibatkan bangunan-bangunan hancur.

Tatang pun segera berlari menuju rumahnya. Sambil sesekali rasa cemas menghampiri dirinya, memikirkan sang istri yang sedang hamil lima bulan. Setelah sampai rumahnya ia mendapati istrinya sedang berada diluar, Tatang pun sedikit merasa lega mendapati istrinya selamat. Saking paniknya Ila lupa menggunakan penutup kepalanya, sebuah identitas sebagai seorang muslimah. Ila hanya mengatakan pada Tatang, “Kang kerudung saya di dalam, saya tidak pakai kerudung”. Tatang merasa tenang, gempa tidak menghancurkan keimanan istrinya, kemudian tatang pun memeberikan jaketnya untuk menutupi kepala istrinya itu. Ia merasa khawatir jika masuk ke dalam rumahnya, bangunan sisa gempa tadi akan runtuh. Baginya nyawalah yang terpenting, barang atau harta benda bisa ia pinjam atau cari, tapi nyawa tidak seperti harta benda yang dapat dibeli dengan uang.

Ia masih teringat ketika gempa baru selesai terjadi, banyak orang-orang yang masuk kembali kerumahnya untuk mengambil harta bendanya yang tersisa. Namun tidak sedikit yang terluka akbiat perbuatannya itu. hal ini membuat Tatang berpikir, inilah manusia yang teramat sayang terhadap harta, sampai tidak pernah memikirkan nyawanya sedikit pun. Tidak sedikit orang yang batal puasanya akibat musibah ini, namun tidak bagi Tatang, justru semestinya kita harus semakin sadar atas musibah ini. selama dua hari, ia hanya sahur dan berbuka dengan ubi mentah yang ada dikebun Pak Maman. Memang tidak enak, tapi apa mau dikata, makanan inilah yang ada.

Lafadz Takbir semakin terdengar menyeruak menembus qalbu Tatang. Tak terasa fajar telah terbit. Kumandang adzan shubuh membahana di bumi yang tertimpa bencana. Tatang bergegas mempersiapkan diri untuk pergi shalat I’ed. Karena hari ini ia akan menjadi khatib dan imam pada shalat I’ed, dan sebelum pergi ke tempat shalat ia harus membagikan zakat, titipan dari para muzaki di Bandung.

Shalat ‘Ied dilakukan di lapang bekas masjid yang kini sudah rata dengan tanah. Pada bulan Ramadhan Tatang dan rekan-rekannya sengaja meratakan masjid yang tinggal puing-puing tersebut untuk pelaksanaan shalat ‘Ied. Saat memasuki tempat tersebut, terasalah suasana mengharukan, haru karena hari kemenangan telah tiba bagi mereka yang menang, menang dalam kesabaran atas musibah yang menimpa mereka.

Mereka shalat dengan khusuk, memanjatkan do’a pada yang maha kuasa. Mereka asik berkomunikasi dengan Sang Pencipta dalam keheningan. Tak sedikit cucuran air mata mengalir di pipi-pipi mereka. anak-anak pun tampak khusuk menjalani hari yang dinantikan, meskipun tidak ada baju baru bagi mereka. Ibu-ibu dan Bapak-bapak tunduk sujud, meskipun tidak ada hidangan yang akan dihidangkan pada saat berlebaran.

Setelah shalat Tatang pun naik ke atas mimbar, kemudian mengawali khutbahnya dengan membacakan hamdalah, memuji Allah yang menguasai alam beserta isinya. Apa yang dirasakan Tatang ia ungkapkan dalam khutbah Ied tersebut, “Bapak-bapak, Ibu-ibu, coba lihatlah siapa yang ada disebelah kanan, kiri, depan dan belakang kita. Adakah yang berbeda dari mereka?, dan adakah tetangga kita yang tidak hadir pada ‘Ied kali ini. sudah seharusnyalah kita saling memperhatikan. Mereka adalah saudara kita.”

Disela-sela khutbahnya, Tatang mebacakan suatu ayat yang sangat indah dan mempunyai makna sangat dalam, “Fabi Ayyi Aala’i Robbikumaa Tukadzibaan”. “Nikmat manakah yang kamu dustakan?”. Kontan para jama’ah ied semakin sedih mendengar ayat tersebut. Mereka semakin berpikir, ternyata kita semua masih diberi kenikmatan, nikmat menikmati hari raya. Sekarang mereka semakin sadar bahwa Allah sayang kepada mereka. Allah masih memberi kesempatan hidup untuk dirinya. Karena tidak sedikit dari korban gempa yang tidak dapat mengikuti hari raya.

RW 03 di Kp. Pasir Mulus tersebut terasa hening namun ramai, hening karena karena khusuk, ramai karena panjatan do’a kepada yang Maha Kuasa. setelah selesai ‘Ied mereka tidak mau meninggalkan tempat shalat. Mereka tidak mau meninggalkan saudara-saudaranya. Sungguh pemandangan yang mengharukan. “Taqbalallahu minna wa minkum”, sebuah do’a yang mereka ucapkan kepada sesama saudaranya, sambil berangkulan dan dihiasi air mata kebahagiaan. Baju baru, ketupat dan kue-kue tidak ada pada hari lebaran mereka kali ini, hari kemenganlah yang mereka miliki. Karena sekarang mereka mengerti makna dari, “Fabi Ayyi Aala’i Robbikumaa Tukadzibaan”, “Nimat mana yang kamu dustakan”.


(Mengenang Gempa Pangalengan)

Sabtu, 29 Mei 2010 di 10.58 , 0 Comments

analisis 2012 bangsa maya


APAKAH KIAMAT ATAU BENCANA GLOBAL DI TAHUN 2012?

Mungkin sebagian bersar dari kita telah mengetahui bahwa ramalan bangsa maya yang menyebutkan kiamat tahun 2012. Tapi ada yang mempercayai ramalan itu namun ada juga yang menolak mentah-mentah dengan pernyataan tersebut. Namun tidak sedikit yang menganggap itu sebagai pertanda dan mempersiapkan semua kemungkinan yang akan terjadi, tapi ada juga yang menggangap itu hanya ramalan belaka atau hanya isapan jempol belaka.
Akan tetapi banyak sanites yang meneliti akan kebenaran hal ini, para sanities yang melakukan observasi melalui penelitian astronomi nya banyak menemukan bukti baru tentang apa yang di bicarakan oleh ramalan bangsa maya tersebut. Bahkan dewasa ini para ahli arkeoastronomi atau para ahli yang mempelajari mitos, legenda, kepercayaan, dan pandangan kebudayaan kuno yang berkaitan dengan astronomi. Menemukan bukti baru bukan hanya ramalan bagsa maya saja melainkan bangsa sumeria dan Babylon pun telah di temukan dokumen yang berbicara senada dengan suku maya.
Prof. zecharia sitchin pada saat penelitiannya tentang peradaban dan antropologi di timur-tengah mengenai peradaban Mesopotamia, dan babilonia menuliskan hipotesis dan teorinya dalam satu seri buku “earth chronicles” yang terdiri dari 6 buku. Dengan referensi dari kitab-kitab, papyrus, perkamen kuno sebagai bukti otentik dari kitab suci torah, mitos dan epik-epik serta teks-teks kuno akkadia san bangsa Hittite, buku kematian bangsa mesir, dan epik ciptaan bangsa sumer. Mengemukaan bahwa semua kebudayaan kuno itu berasal dan memiliki kebudayaan yang sama,
Sitchin berpendapat bahwa bangsa sumeria pun mempunyai penanggalan atau perhitungan astronomi yang sama dengan bangsa maya. Beliau meninjuakan beberapa materi, materi pertama ialah satu pelakat yang sekarang di simpan di musiem timur tengah kuno di berlin ( lebih di kenal plakat berlin) yang berumur sekitar 4.500 tahun lalu itu terdapat gambar tata surya di bagian kiri atas pelakat dengan matahari berada di pusat sistemnya. Begitu detil gambaran tata surya tersebut dengan proporsi ukuran planet itu pun di gambarkan dengan tepat dan berjumlah 12.
Materi ke dua Prof. sitchin munggunakan apology selain teks-teks kuno yang menggandung informasi mengenai kondisi bumi sebelum adanya kehidupan, dan yang mengenai proses penciptaan makhuk hidup. Hanya dua tulisan kuno yang mengandung informasi tersebut, yang pertama ialah kitab torah dalam bab kejadian (genesis) dan yang kediua ialah teks akkadia yang di tulis dalam dialek babilonia kuno, yang di temukan ilmuwan George smith, penulis buku “the chaldean genesis” tahun 1876 dan kemudian oleh L.W king di berinama “the creation epic” atau dalam bahasa aslinya Enuma Elish. Dua kalimat pembuka dalam epik penciptaan ini di buka dengan:
Enuma Elish la nabu shamamu
Ketika di atas, langit belum diberi nama
Shaplitu ammatum shuma la zakrat
Dan di bawah, bumi melum di sebut.

Sementara di dalam kitab torah genesis 6:4 (dalam versi king james version) ditemukan :
There where giant in the earth in those day
Pada masa itu terdapat para raksasa di bumi
And also after that, when son of god came unto
Dan ketika itu, para raksasa mengahampiri
The daughters of men, and they bare children to them
Para anak wanita manusia, dan merekapun melahirkan anak-anak
They same become mighty men which were of old, men of renown
Yang menjadi pahlawan besar pada masanya, orang –orang yang terkenal.

Dari temuan arkeologis yang paling tua yang pernah di temukan, bayak yang memuat symbol-symbol mengenai benda langit dan system tata surya. Seperti yang telah di sebutkan di atas bahwa plakat berlin ini menunjukan system tata surya dengan detail sehingga susunan dan proporsi ukuran planet dan bulan. Namu menunjukan juga adanya satu benda langit yang lai ukuranya, lebih besar dari bumi, namun lebih kecil dari Jupiter dan saturnus. Lalu apakah “planet ke 12” itu?
Sitnchin kembali merujuk pada teks kuno Mesopotamia “epic of creation” di dalam teks di temukan nama-nama dan kisah sumeria untuk benda benda angit tersebut dalam system tata surya kita “
Matahari – apsu (yang ada dari mulanya)
Merkurius – mummu (penasehat dan duta dari apsu)
Venus _ lahamu (dewi perang)
Mars – lahmu (dewa perang)
Bumi – tiamat (ibu yang memberi kehidupan)
Bulan – kingu ( duta besar penjaga tiamat)
Jupiter – kishar (yang terkemuka di antara darat)
Saturnus - anshar (yang terkemua di antara langit)
Uranus – anu (yang dari langit)
Neptunus – nudimmud/ea ( pencipta kreatif)
Pluto – gaga (penasehat duta anshar)
dalam paragraph lain dari teks tersebut yang sama ditemukan benda langit lain, yang menjadi misteri selama ini.
‘Dalam ruang takdir, tempat nasib:
Satu pusaka di ciptakan, pusaka yang paling pandai dan bijak dari semuanya:
Dari didalaman jantung langit, MARDUK diciptakan’
Dalam teks yang sama juga di temukan dialek babilonia (nama sumeria untuk marduk).
‘Planet NIBIRU”
Persimpangan langt dan bumi akan dikuasainya.
Atas dan bawah, mereka tikak akan bersilangan.
Mereka harus menunggu dia.
Planet NIBIRU:
Planet yang gemerlap di langit.
Ia menguasai pusat.
Padanya mereka akan memberi hormat.
Planet NIBIRU:
Adalah dia yang tampa lelah.
Terus bersilangan dengan tiamat.
Maka jadialah namanya “persilangan”
Ia menguasai pusat.
Dari teks teks itulah sitchin sampai pada satu kesimpulan bahwa planet yang ke 12 tidak lain PLANET NIBIRU / PALET X (MARDUK).
Ramalan tentang kiamat itu tidak hanya terdapat di bangsa-bangsa kuno seperti di atas, namun ramlan ini pun sudah “tersimpan’ rapih di semua kitab suci, yang mencengangkan dari bentuk ramalan itu adalah bukan hanya berbentuk teks-teks semant, namu ada sebuah ramalan yang berberntuk kode-kode dalam bahasa ibrani. Mungkin sebagian besar dari kita tidak mengetahui isi dari kitab suci terbut dikarenakan kita tidak mempunyai kitab tersebut. Namun dalam buku referensi yang saya gunakan, kode kode itu teracak dan harus mempunyai kemampuan khusus untuk memecahkanya, mungkin bila anda pernah menonton film “knowing”, dan “the da vinci code” anda sudah mengetahui gambarannya, kurang lebih seperti itulah kode kode yang harus di pecahkan dalam kitab suci torah.
Pada awalnya para peneliti tidak yakin dengan apa yang meraka temukan, namun setelah beberapa kali percobaan untuk menebak tentang kejadian yang telah lalu. Dan betapa terkejutnya ketika 60 “pertanyaan” yang di ajukan pada kode tersebut, semua jawabn ternyata cocok dengan kejadian,tempat,waktu, bahkan pelaku dari jedaian tersebut.
Namun di dalam ditab injil pun ternyata terdapat sebuah ramalan tentang bumi, dengan dasar penelitian oleh seorang Illuminati (yang tercerahkan) Eropa abad pertengahan yang melawan dogma gereja soal gravitasi bumi. Ia adalah Isaac Newton. Newton melakukan penghitungan matematis terhadap umur dunia dengan sumber-sumber dari berbagai kitab ramalan, sejarah, dan juga Alkitab itu sendiri. Newton mendapatkan hasil bahwa setelah Kerajaan Romawi Suci berlalu di tahun 800 M, maka harus ada waktu selang selama 1260 tahun untuk mendirikannya kembali. Hasilnya, Newton menulis, bahwa Kerajaan Romawi Suci akan berdiri dan ini akan menandai Hari Akhir Dunia, pada tahun 2060.Menurut kepercayaan kelompok Kabbalah, di Akhir Dunia, Haikal Sulaiman akan sudah berdiri dan dari sana Sang Messiah (The Christ) akan turun kembali guna memimpin orang-orang Yahudi memerangi seluruh manusia yang tidak mau tunduk pada mereka. Perang ini akan berlangsung dengan hebat di atas bukit Megiddo di kawasan Arab dan sebab itu dinamakan Perang Armageddon.Manuskrip rahasia Newton (The Secrets Newton) ini sempat dipamerkan pada tahun 1969 di Universitas Ibrani di Yerusalem.
Dan di dalam islampun tentu ada ramalan tentang hari akhir namu dalam al-Qur’an tidak pernah menyebutkan kapan kiamat itu terjadi, namun al-Qur’an memberikan tanda-tanda kiamat tersebut kepada utusanya( Rasulnya) yakni nabi Muhamad SAW. Dengan melalui rahul kudus (malaikat zibril). Pada al-Qur’an ramalan tentang hari kiamat. Terdapat pada Q.S 22:1, 2, 7, 9, 12, 55, 69. yang menyebutkan tentang kejadian yang akan terjadi pada hari kiamat itu, seperti di jelaskan pada ayat Q.S 23:16, Q.S 25 :11,69. Q.S 29:13, 25. Q.S 30:12, 14, 55.
Akan tetapi islam melarang segala bentuk ramalan, baik yang berbau klenik maupun yang berdasarkan data-data yang empiric, percaya ataupun tidak bahwa ramalan bangsa kuno atau yang terdapat pada kitab suci torah, kami kembalikan kepada pada para pembaca. Namun berit ini sebuah kutipan yang menerangkan atau mengarah pada apa yang akan terjadi kelak di tuhun2012 mengenai kemunculan benda langit yang bernama PLANET X NIBIRU yang disebutkan oleh bangsa maya, dan semeria:
New York times, 19 juni 1982
Sesuatu di luar sana mempengaruhi pergerakan Uranus dan Neptunus. Suau gaya gravitasi kuat terus mengganggu dan membuat ketidak wajaran pada orbit kedua planet itu. Daya gravitasi itu menimpulkan adanya suatu keberadaan benda langit besar, mungkin Planet X yang selama ini di cari para ilmuan. Selama ini, terdapat ketidak wajaran dalam orbitplanet-planet paling luar tata surya. Para ahli astronomi demikian yakin tentang keberadaan planet ini hingga meraka menamakanya ‘planet x – planet ke 10.
Hazelwood berusaha menunjukan bukti-bukti bahwa dunia ilmu pengetahuan mainstream seperti arkeologi dan astronomi pun menangkap gejala dan jejak-jejak sejarah mengenai planet X dan bencana global yang di timbulkanya seperti efek pergeseran kutub. Dalam teori ‘nemesis’ yang di populerkan oleh pemenang nobel Fisika Luiz Alvarez, menyebutkan bahwa kepunahan makhuk hidup (termasuk Dinosaurus), adalah “ulah” komet atau planet yang dia sebut ‘death star’ yang dalam orbinya membawa komet dan meteor yang membawa bencana, termasuk bagi bumi. Dia beranggapan bahwa peradaban kuno yang di bangun oleh legenda-lengenda seperti Atlantis, Lemuria, maya dengan kisah-kisah mereka yang tersembunyi da dasar laut yang disebabkan oleh ’death star’ menjadi masuk akal.
Dalam bukunya, Hazelwood juga memberikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dengan lewatnya planet X ini. Ia berfokus pada pergeseran kutub (polar shift) akibat dari adanya gravitasi planet X, ia juga menunjukan bukti-bukti bahwa planet X ini bukanlah sebuah kategori planet. Tetapi sebuah bintang bantut atau ‘brown dwarf star’ yang berdaya gravitasi kuat dengan ukuran kira-kira seperti planet Jupiter yang memancarkan infra merah.
Dengan kata lain, bukan hanya ramalan semata tentang kiamat di tahun 2012 ini. Namun prediksi para ilmuan yang mengarah pada kemungkinan terjaninya kiamat (bencana global) telah memberikan bukti-bukti otentik bahwa kemungkinan besar terjadi bencana itu pada tahun 2012, dengan mengambil nilai sejarah yang telah terjadi beberapa juta tahun lalu yang akan terus berulang denga skala tahunan dengan sebab yang MAHA DASYAT. Prediksi ini dikuatkan dengan kedajian-kejadian yang tengah melanda bumi ini, seperti pemanasan global, pergeseran kutub (polar shift), dan menunrunya gaya gravitasi bumi yang menyebabkan banyak benda angksa atau pesat yang jatuh. Hanya orang bijaklah yang bias mengambil hikmah dari kejadian ini. Tiar
(sumber: hipotesis planet X nibiru dan agenda new world order
(bahtiar / jurig)

Rabu, 26 Mei 2010 di 21.32 , 0 Comments

cahaya diatas cahaya


kawan, apa kau tau cahaya di atas cahaya???
kita seakan lupa akan secercah cahaya kecil
tatkala kita sudah mendapatkan cahaya yang bisa membuka tabir kegelapan seutuhnya
cahaya yang telah membutakan mata hati kita pada cayaha ilahi
kita seakan tak pernah menyadari cahaya di atas cahaya
kita telah melupakan lentera kecil yang telah lama kita anut selama kita berada dalam kegelapan
ya... memang itu fitrah dari manusia
manusia sering lupa akan teman yang selalu hadir dalam kesunyian kita tatkala berada dalam kegelapan
kita sudah melupakan lentera yang telah setia memenani kita dan menbiarkan dirinya lenyap di makan waktu yang kejam.
lentera yang dulu kita agungkan, lentera yang dulu kita puja kini menjadi isapan jempol belaka.
kita telah melupakan jasa dari lentera yang dulu kita agungkan yang kita puja.
apa salah dari manusia yang telah melepaskan diri dari kegelapan??
apakah manusia terlalu sombong atau terlalu sempurna??
sehingga semudah itu kita manusia melupakan jasa dan pengorbanan dari cahaya kecil??
atau mungkin kita terlalu sombong sehingga kita terlalu sibuk mencari cahaya yang bisa membuka tabir kegelapan yang tak ada gunanya itu??

begitu bodohnya manusia yang telah melawan cahaya kecil untuk membuka tabir kegelapan
apakah manusia tidak menyadari rahasia kegelapan yang telah mereka buka???
dan begitu bijak sananya lentera kecil tatkala manusia berpura-pura kembali padanya setelah apa yang telah meraka perbuat sehingga mereka kehilangan cahaya yang meraka agungkan!!!!
dan apakah lentera itu tau bila suatu saat nanti mereka akan meninggalkan lentera itu setelah mereka puas menghisap ketenangan dan kebijak sanaan dari lentera yang selalu setia menunggu kehadiran manusia bodoh yang telah mencapkanan cahaya kecil demi tabir cahaya yang fana itu.

cahaya di atas cahaya
apakah manusia sadar bahwa ada sebuah cahaya yang selalu hadir untuk manusia meskipun cahaya itu tau akan kesombongan manusia yang tengah berpesta dalam keangkuhan cahaya dunia yang membuat manusia melupakan cahaya yang menuju cahaya ilahi.
manusia telah mengganggap cahay ilahi tak pernah besinar.
namun manusia lupa akan sinar cahaya ilahi yang masih bersinar sampai kapanpun yang telah terselimutu cahaya yang di buat oleh manusia itu sendiri.
(bahtiar / jurig)

di 21.29 , 0 Comments


Memupuk Silaturahmi dengan Sportifitas





Berebut bola para pemain dari HIMMAKA Bandung saat
HIMMAKA CUP berlangsung dilapangan Futsal Purbaya,
Ciguruwik, Cinunuk, Minggu (25/4).

HIMMAKA (Himpunan Mahasiswa Majalengka) Bandung mengadakan sebuah acara Turnamen Futsal yang diberi nama HIMMAKA CUP, Minggu (25/4), dilapangan Purbaya, Ciguruik, Cinunuk, Bandung. Acara ini diadakan untuk memberikan wadah bagi para anggota HIMMAKA Bandung agar dapat bersilaturrahmi dengan bentuk sprotifitas.
Acara ini banyak menarik perhatian para mahasiswa asal Majalengka lainnya, dan acara ini tertutup untuk mahasiswa non Majalengka. Ini ditujukan agar HIMMAKA CUP menjadi ajang silaturrahmi antar mahasiswa asal Majalengka.
“ Adanya kompetisi HIMMAKA CUP dapat menjadi ajang silaturrahmi bagi anggota HIMMAKA yang lainnya, kompetisi inipun mengajarkan arti sportifitas dalam persaingan dan Fairplay.”, ujar Redi Rohaedi, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris asal Majalengka.
Menurut Rifqi Dinar Ramdani, sistem dalam setiap pertandingan tidak terkoordinir dengan baik. Namun harapan untuk menjadi lebih baikpun dilontarkannya, karena dengan biaya sebesar Rp. 7.500.- sudah mencukupi semuanya.
Dalam kompetisi HIMMAKA CUP ini, terdapat 6 tim yang beranggotakan 6 orang. Dan meloloskan 2 tim dari setiap grup, sedangkan pertandingan finalnya akan dilaksanakan pada Minggu (9/5) dilapangan Futsal Erlangga, Cibiru, Bandung.

di 21.20 , 0 Comments

berita



Saeed Hadirkan d’ Cinnamons

Diwawancarai : Para personil d’ Cinnamons tersenyum saat diwawancara tentang acara Eleventh Saeed Anniversary oleh wartawan kampus didepan Auditorium UIN SGD Bandung, Selasa (20/4).



Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), menyelesaikan puncak acara Eleventh Saeed Anniversary di Auditorium Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (20/4). Puncak acara yang dimeriahkan oleh salah satu band terkenal di Indonesia, d’ Cinnamons, banyak mengundang ketertarikan para mahasiswa-mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati untuk melihat penampilan menawannya.
Perayaan 11 tahun Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini memang membat banyak kalangan terkagum, karena banyaknya acara-acara seperti Seminar Internasional yang mengundang banyak peserta dari tiap mahasiswa dari berbagai Universitas. Selain itu terdapat pelatihan Toufle bagi semua mahasiswa, dan banyak lagi.
Puncak yang menghebohkan Auditorium Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, penampilan d’ Cinnamons yang menawan dan sangat indah saat melantunkan lagu-lagu khasnya. Para penonton tertegun saat d’ Cinnamons menyanyikan lagu Ku Yakin cinta dan Loving You yang menggugah perasaan para penonton.
“ d’ Cinnamons keren deh, lagu-lagunya asik!!”, ungkap Rivan, salah satu panitia Eleventh Saeed Anniversay. (dEgi / jurig)

di 21.11 , 0 Comments

Karakter Bangsa Ditentukan Tayangan yang Dikonsumsinya

“Kamu sialan! Mengerjakan ini saja tidak becus, apalagi mengerjakan hal yang lainnya”. itulah salah satu dialog dalam adegan sebuah sinetron yang di tayangkan di salah satu stasiun TV swasta. Sebuah adegan dimana seorang majikan memarahi pembantunya, alasannya sepele, gara-gara pembantunya tersebut menumpahkan air yang dibawanya.

Hal ini memperlihatkan suatu kenyataan bahwa betapa buruknya sinetron kita saat ini. pasti saja di dalamnya selalu menampilkan sesuatu hal yang berbau kebencian, permusuhan dan kekerasan. Baik sinetron tersebut menceritakan kisah percintaan ataupun kisah komedi bahkan religi.


Memang di satu sisi sinetron tersebut memberikan pelajaran, namun di sisi lain tidak mendidik bahkan terkesan ingin menghancurkan tatanan moral yang sudah dibangun. Tidak dapat dipungkiri, sangat besar sekali pengaruh televisi terhadap kehidupan kita. Baik dalam kehidupan sosial ataupun pribadi. Bila para penonton di rumah selalu disuguhi dengan tayangan-tayangan seperti itu, maka lambat laun dan secara tidak sadar akan terpengaruh.

Profesor George Gerbner memperkenalkan sebuah teori kultivasi (cultivation theory), yang mengungkapkan bahwa, televisi menjadi media atau alat utama dimana para penonton televisi itu belajar tentang masyarakat dan kultur dilingkungannya. Dengan kata lain, televisi dapat membangun persepsi dalam benak kita tentang masyarakat dan budaya. Ini artinya, kontak kita dengan televisi mengajarkan kepada kita tentang dunia, individu-individunya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya.

Salah satu sifat Manusia adalah meniru (imitate) tingkah laku orang lain. Menurut Albert Bandura, sebagaimana yang dikutip oleh (Kardi, S., 1997 : 14) bahwa “sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara selektif dan mengingat tingkah laku orang lain”. inilah yang disebut pembelajaran sosial, hal ini mencadangkan bahawa seorang individu meniru tingkahlaku yang diterima masyarakat (socially accepted behaviour) dan juga tingkahlakku yang tidak diterima masyarakat. Dengan demikian, pembelajaran sosial tidak hanya melibatkan mempelajari tingkahlaku yang diterima tetapi juga tingkahlaku tidak diterima. Ini adalah sama dengan proses generalisasi dan diskriminasi yang diutarakan oleh Skinner.

Tayangan yang sangat kental sekali aroma kebencian, permusuhan dan kekerasan yang disuguhkan saat ini, lambat laun akan membentuk mental dan moral para penontonnya untuk menuju kepada kehancuran. Bagaimana tidak, apa yang kita lihat tersebut akan kita tiru. Sehingga efek dari sebuah media yang sering menampilkan hal semacam ini akan berimbas pada prilaku kita, dan juga akan membentuk kebiasaan atau budaya disekitar kita.

Akan lebih bahaya lagi jika aroma negative tersebut sudah menjadi hal yang biasa, dan merebak dilingkungan sosial kita. Umpamanya, ada orang yang akan berbicara kotor dan kebetulan di tempat tersebut orang-orangnya suka berbicara kotor, maka orang yang akan berbicara kotor tersebut tidak akan merasa malu atapun risih. Karena perkataan semacam itu sudah dianggap hal yang wajar ketika berkomunikasi. Hal yang wajar ini akan menjadi sebuah kebiasaan dan dianggap bukan sesuatu yang memalukan. Lain halnya bila kita berada di tempat orang-orang yang halus dalam bertutur kata, maka bila kita akan mengatakan sesuatu yang kotor akan merasa malu atau risih. Karena hal semacam itu tidak wajar untuk dikatakan.

Artinya bila setiap hari kita selalu dijejali dengan kebencian, permusuhan dan keangkuhan atau disuguhi dengan hal-hal yang semacam itu, maka tidak aneh jika suatu saat kita menganggap bahwa itu adalah hal yang wajar dan tidak akan mersa malu ataupun dosa dengan perbuatan semacam itu.

Seharusnya tayangan-tayangan lebih menekankan pada penanaman moral yang lebih baik. Karena mau tidak mau kemajuan bangsa ini juga akan ditentukan oleh tayangan-tayangan yang dikonsumsinya. Bila hal ini tidak disadari maka akan sangat berbahaya sekali bagi moral manusia umunya dan bangsa ini khususnya.

(Penulis adalah Deli Luthfi Rahman, Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung, angkatan 2008)

di 12.39 , 0 Comments

MENGINTIP KEPRCAYAAN BANGSA ASLI ASIA PURBA

Bila kita mengintip sejarah kepercayaan yang ada pada penduduk Asia Tenggara, maka kita akan menemukan kesamaan dengan kepercayaan yang ada pada penduduk asli Asia Timur. Bahkan bila dihubungkan dengan kepercayaan penduduk Polinesia, Mikronesia dan Amerika latin terdapat beberapa kesamaan pula. Bila ditarik benang merahnya, maka kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata pada masa dahulu mereka memeluk satu ajaran yang sama. Hal itu dapat terlihat dari dongeng-dongeng serta penamaan dewa-dewa yang mereka percayai.

A.D. Elmarzedeq menyebutkan dalam bukunya Parasit Aqidah, bahwa di Korea terdapat kepercayaan terhadap harimau jadi-jadian, lalu di Jawa dan Sumatra pun terdapat pula kepercayaan pada harimau jadi-jadian itu. Di Jawa dan Sumatra terdapat dongeng putri tujuh turun mandi pada sebuah danau, lalu pakaian putri bungsu itu dicuri oleh seorang pemuda, putri bungsu kawin dengan pemuda itu tetapi akhirnya putri bungsu kembali ke kayangan, setelah baju terbangnya ditemukan kembali. Dongeng ini tersebar di seluruh Asia tenggara dan titik persamaannya terdapat pula di Asia Timur.

Maka diperkiraan pada 5000 sM, ajaran penyembah pada Tu dan Yang berpangkal di Asia Tengah yang mungkin dianut beberapa suku Mongolid purba (nenek moyang orang Cina, Tibet dan Jepang) dan kemungkinan pada lebih kurang 3500 sM telah dianut beberapa suku nenek moyang proto Melayu yang masih menduduki beberapa daerah di Cina Selatan. Lalu terdesak suku Tsin (bukan bangsa Tsin) dan nenek moyang suku Haka, sampailah suku-suku proto Melayu itu ke lembah Menam, Mekong dan Irwadi. Maka terjadilah percampuran di Asia Tenggara antara suku-suku proto Melayu dan suku Cina purba itu. Di antara keturunan suku campuran itu ialah bangsa Anam dan Siam (Thai).

Pada 2000 sM ada sebagian suku-suku proto Melayu itu tersebar kearah Selatan memasuki kepulauan Indonesia dan Pilipina. Ada pula sebagian masuk ke India dan diantara keturunannya adalah suku Munda; mereka masuk ke India melalui Assam. Ada pula sebagian suku-suku proto Melayu itu menempuh pesisir Cina dan sebagian dari mereka bermukim di Korea lalu bercampur darah. Sebagian pula dari korea itu turun ke jepang dan bertemu dengan arakan rombongan dari selatan. Dari kepulauan Indonesia sebagian suku-suku itu berlayar ke Selandia Baru dan sekitarnya, Polinesia dan Mikronesia. Bahkan ada dugaan bahwa penduduk Asli Amerika Latin adalah keturunan dari mereka yang berada di Polinesia, karena mungkin disebabkan pengaruh arus laut mereka tersebar kearah barat. Maka penyelidikan dalam hal akar kata, akar kepercayaan, hiasan kepala, lukisan perisai, baju kutung, perahu cadik dsb. menunjukan titik persamaan.

Maka bila melihat arus penyebaran penduduk di atas, akan sangat mungkin terdapat persamaan-persamaan, baik dari segi dongeng atau pun kepercayaan yang dianut. Bangsa-bangsa asli yang disebutkan tadi mempunya ajaran ketuhanan yang sama, mereka menyembah Tu. Menurut mereka penguasa sekalian alam itu dinamakan Tu yang bersifat esa, tidak berawal dan tidak berakhir. Maha besarlah jika dibandingkan dengan alam terbesar dan maha kecillah jika dibandingkan alam yang terkecil. Tetapi dzat Tu itu memenuhi sekalian alam. Bila alam itu binasa, maka dzat Tu itu kembali pada semula.

Menurut ajaran Mon dan Khmer, Tu atau Tuh itu ada dan menyeluruh, ia jauh tetapi dekat, ia bersatu tetapi berpisah. Menurut ajaran Melayu Purba, Tu dinamakan pula Tuh (jika diberi imbuhan “–an” menjadi Tuhan). Tuh itu dinamakan pula Sangyang Tunggal yang hidup bersekutu dalam alam tetapi ia sendiri bukan alam. Dalam ajaran Kaharingan, Tuh atau Toh itu ruh alam, penguasa terbenam dan terbitnya matahari. Dan masih banyak lagi ajaran tentang ketuhanan yang dianut bangsa-bangsa asli yang disebutkan tadi. Namun semuanya mengarah pada satu kepercayaan yang sama yaitu Tu, walaupun terdapat penyebutan yang berbeda kepada Tu tersebut, ada yang menyebut Tao, Thian, Toh, Thi, Tou, To, Teuh dsb. Ajaran Pantheisme ini masih berbekas di berbagi wilayah, di Jawa terdapat dalam ajaran kejawen, dan dalam agama-agama lokal suku terpencil di Birma, tahiland, Yakun (Malaysia), Sulawesi, Kalimantan. (A. D. Elmarzedeq, “Parasit Aqidah”).

Dalam kepercayaan terhadap Tu atau Tuh, mereka pun mempercayai dewa-dewa tetapi derjatnya berada di bawah Tu atau Tuh. Mereka biasa menyebutnya Yang atau Shan, Hiyang, Iyang, Yeng dan semacamnya. Di jepang diberi gelar juga “Kami”. Bagi mereka dewa yang tertinggi adalah dewa langit dan dewa Bumi. Di Cina dewa langit ialah Yang, bertugas sebegai pemberi, ada di atas dan bersifat jantan. Sedangkan dewa bumi disebut Yin atau Ying, bertugas sebagai penerima, ada di bawah dan bersifat betina. Pada kepercayaan asli Siam, dewa langit disebut Po Yang dan Mo Yang. Pada suku Munda, Yhaam dan Yheem. Dalam kepercayaan Melayu kuno disebut Poyang dan Moyang atau Ame dan Ine.

Bila melihat dongeng-dongeng yang ada pada bangsa asli tadi, akan ditemukan keterkaitan dengan kepercayaan terhadap Tu atau Tuh dan dewa-dewa yang mereka anut. Dalam kepercayaan mereka, konon beranaklah pasangan Yang-Yin (dewa langit-dewa bumi) itu, tujuh orang putra dan tujuh orang putri. Karena putri sulung panas hatinya pada Yang putra, maka ia turun mandi bersama saudaranya pada sebuah danau yang sepi di bumi, bertanggakan jenjang pelangi. Maka ada ungkapan orang tua jaman dulu ketika melihat pelangi setelah hujan, “Ada putri yang sedang mandi”.

Pada suatu ketika Yang putra sulung naik berahinya pada ibu kandungnya sendiri sehingga ia diusir ke bumi. Ia menjadi calon penguasa di bumi dan belum mempunyai pasangan. Pada malam purnama ia pesiar ke tepi danau dan dilihatnya putri-putri tengah mandi, lalu dicurinyalah salah selembar baju-terbang putri itu yang ternyata kepunyaan putri bungsu. Ketika putri-putri lain terbang kembali ke kayangan, putri bungsupun menangis karena kehilangan baju terbangnya itu. Akhirnya putra sulung mengawininya hingga beranak cucu sebagai raja-raja bumi. Karena itulah raja dianggap sebagai putra langit. Kemudian cerita putri mandi ini tersebar diberbagai wilayah, seperti Jaka Tarub di Jawa, Ogo Amas di Sulawesi, Poyaka di Pilipina, Putri Tujuh di Sumatera, Ha Goromo di Jepang.

Dari dongeng tersebut lahirlah upacara pemujaan dan sajian. Peribadatan kepada Tu secara langsung, semula khas untuk raja. Raja adalah anak langit, ia sederajat dengan Yang, raja melakukan sembahtu dan rakyat melakukan sembahyang, menyembah dan taat kepada raja, sama dengan taat kepada Yang. Maka diantara umat Islam Indonesia, ada yang menyebut shalat itu dengan sembahyang. Padahal kata sembahyang dan shalat itu jelas berbeda maknanya, karena yang disembahnya pun berbeda, sembahyang menyembah Yang, sedangkan shalat bentuk penyembahan terhadap Allah.

Konon pada zaman dahulu, untuk keperluan sembahtu, seorang gadis pilihan dikorbankan dengan cara disuruh menari telanjang kemudian membunuh dirinya sendiri dan mayatnya di lemparkan kepada perigi. Dan disajikan pula sesajian dalam piring-piring emas.
Ada beberapa sembahyang yang dilakukan dalam menyembah dewa Yang tersebut. Seperti, sembahyang perkawinan, sembahyang menjelang gadis, sembahyang perkawinan, sembahyang hamil tiga bulan dan tujuh bulan, sembahyang bersalin, upacara kematian dsb. Di Indonesia kita mengenal upacara tujuh bulanan, dan bila melihat akar kepercayaan itu terdapat dalam penyembahan terhadap Tu dan Yang. Dalam sembahyang hamil tiga bulan, disajikan macam buah-buahan. Perempuan hamil itu lepas sembahyang, dimandikan tiga kali, berganti pakaian tiga kali, menyulut hio tiga batang.

Pada sembahyang hamil tujuh bulan, disajikan tujuh macam sajian. Perempuan hamil itu lepas sembahyang, dimandikan tujuh kali, melepas ikan belut ke dalam kain sekali agar persalinan menjadi lancar. Bersembahyang kembali dengan menyulut tujuh batang hio, berdagang makanan tujuh macam pada anak-anak dan dibayar dengan uang-uangan. Sejak upacara hamil tujuh bulanan itu, perempuan hamil selalu membawa pisau kecil agar tidak diganggu hiyang jahat.

Di atas hanyalah sebagian kecil persamaan kepercayaan yang tersebar diberbagai wilayah asia. Kemudian terjadi asimilasi, akulturasi dan sinkretisme terhadap agama dan budaya setempat. Percampuran ini terjadi dikarenakan ada yang sengaja dicampurkan, bercampur karena desakan, bercampur karena pergaulan dan bercampur karena hidup berdampingan. Maka bila kita amati dapat dilihat pengaruh kepercayaan tersebut dalam agama Hindu, Budha dan Islam di Asia.

Contohnya upacara kematian dalam agama Yang, mereka melakukan ritual dalam melepas kepergian arwah, mulai dari sehari kematian, tiga hari kematian, tujuh hari kematian, sembilan hari kematian, lima belas hari kematian, empat puluh hari kematian, seratus hari kematian, setahun kematian dan tiga tahun kematian. Pengaruh upacara kematian itu bercampur dan masuk dalam agama budha, hindu dan islam di Asia Tenggara. Bila dalam agama hindu atau budha, seribu hari kematian dibaurkan dalam upacara Syardha, pelepasan ruh dari ikatan dunia. Setelah Islam masuk ke Asia tenggara dan sekitarnya, upacara kematian dan pesta arwah pun tetap dilakukan, tetapi disadur diwarnai dengan warna Islam. Isi bacaannya diganti dengan tahlil, solawat dan surat-surat pendek dari Al-Quran, pahala bacaannya itu dihadiahkan kepada arwah. Acara ditutup dengan makan-minum dan sebagian dibekalkan untuk pak Lebai.

(Penulis Adalah Deli Luthfi Rahman Mahasiswa UIN Sunanan Gunung Djati Bandung
Jurusan Jurnalistik "A" 2008)

di 12.19 , 0 Comments